Di Negara-negara
berkembang, tipe birokrasi yang diidealkan oleh Max Weber nampak belum dapat
berkembang dan berjalan dengan baik. Sebagai salah satu Negara yang berkembang
Indonesia tidak terlepas dari realita di atas. Meski sudah mengenal birokrasi
yang modern, namun jauh sebelum itu, masyarakat Indonesia sudah mengenal dan
menerapkan sejenis birokrasi kerajaan, sehingga dalam upaya penerapan birokrasi
yang modern, yang terjadi hanya bentuk luarnya saja, belum tata nilainya.
Sebagaimana yang
telah ditetapkan di Indonesia lebih mendekati pengertian Weber mengenai
dominasi patrimonial, dimana jabatan dan perilaku di dalam hirarki lebih
didasarkan pada hubungan pribadi. Dalam model Weber , tentang dominasi
birokrasi patrimonial individu-individu dan golongan yang berkuasa dan
mengontrol kekuasaaan dan otoritas jabatan untuk kepentingan ekonomi politik
mereka.
Penampilann Birokrasi Pemerintah di Indonesia
Tidak mudah mengidentifikasi penampilan
birokrasi pemerintah di Indonesia. Namun, perlu dikemukakan lagi, bahwa
organisasi pada prinsipnya berintikan rasionalitas dengan criteria-kriteria
umum seperti efektifitas, efesiensi, dan pelayanan yang sama kepada masyarakat.
Ada beberapa aspek pada penampilan birokrasi
di Indonesia yakni :
Sentralisasi Yang Cukup Kuat
Sentralisasi
sebenarnya merupakan salah satu ciri umum yang melekat pada birokrasi yang
rasional. Di Indonesia, kecenderungan sentralisasi yang amat kuat merupakan
slah satu aspek yang menonjol dalam penampilan birokrasi pemerintahan. Hal ini
disebabkan karena birokrasi pemerintah bekerja dan berkembang dalam lingkungan
yang kondusif terhadap hidup dan berkembangnya nilai-nilai sentralisrik tersebut.
Menilai Tinggi Keseragaman Dan Struktur Birokrasi
Sama seperti sentralisasi, keseragaman dalam
struktur juga merupakan salah satu cirri umum yang sering melekat pada setiap
organisasi birokrasi. Di Indonesia, keseragaman atau kesamaan benetuk susunan,
jumlah unit, dan nama tiap unit birokrasi demikian menonjol dalam struktur
birokrasi pemerintah.
Pendelegasian Wewenang Yang Kabur
Dalam birokrasi Indonesia, nampaknya
pendelegasian wewenang masih menjadi masalah. Meskipun struktur birokrasi pada
pemerintah di Indonesian sudah hirarkis, dalam praktek perincian wewenang
menurut jenjang sangat sulit dilaksanakan. Dalam kenyataannya, segala keputusan
sangat bergantung pada pimpinan tertinggi dalam birokrasi. Sementara hubungan
antar jenjang dalam birokrasi diwarnai oleh pola hubungan pribadi.
Kesulitan Menyusun Uraian Tugas Dan Analisis Jabatan
Meskipun perumusan
uraian tugas dalam birokrasi merupakan kebutuhan yang sangat nyata, jarang
sekali birokrasi kita memilikinya secara lengkap. Kalaupun ada sering tidak
dijalankan secara konsisten. Disamping hambatan yang berkaitan dengan
keterampilan teknis dalam penyusunannya, hambatan yang dirasakan adalah adanya
keengganan merumuskannya dengan tuntas. Kesulitan lain yang dihadapi birokrasi
di Indonesia adalah kesulitan dalam merumuskan jabatan fungsional. Secara
mendasar, jabatan fungsional akan berkembang dengan baik jika didukung oleh
rumusan tugas yang jelas serta spesialisasi dalam tugas dan pekerjaan yang
telah dirumuskan secara jelas pula. Selain itu masih banyak aspek-aspek lain
yang menonjol dalam birokrasi di Indonesia, diantarannya adalah perimbangan
dalam pembagian penghasilan, yaitu selisih yang amat besar antara penghasilan
pegawai pada jenjang tertinggi dan terendah.
Hal lain yang cukup
menarik dan dapat dijumpai dalam penampilan birokrasi pemerintah di Indonesia
adanya upacara-upacara yang bersifat formalitas dan hubungan yang bersifat
pribadi.hubungan yang bersifat pribadi sangat mendapat tempat dalam budaya
birokrasi di Indonesia, karena dengan adanya hubungan pribadi dengan para key
person banyak persoalan yang sulit menjadi mudah atau sebaliknya. Dapat
dikatakan bahwa birokrasi di Negara kita belum baik dan masih banyak yang perlu
diperbaiki.
Kelemahan Birokrasi Pemerintah di Indonesia
Indonesia umumnya
bermuara pada penilaian bahwa birokrasi di Indonesia tidak netral. Kenyataan
tersebut tidak dapat dipungkiri, apalagi melihat praktek sehari-hari dimana
birokrasi terkait dengan lembaga lainnya. Oleh karena itu, birokrasi pemerintah
tidak mungkin dipandang sebagai lembaga yang berdiri sendiri, terlepas dari
lembaga-lembaga lainnya.
Dalam realitanya,
yang menggejala di Indonesia saat ini adalah praktek buruk yang menyimpang dari
teori idealismenya Weber. Dalam prakteknya, muncul kesan yang menunjukan
seakan-akan para pejabat dibiarkan menggunakan kedudukannya dibirokrasi untuk
kepentingan diri dan kelompok. Ini dapat dibuktikan dengan hadirnya bentuk
praktek birokrasi yang tidak efesien dan bertele-tele.
Harapan Birokrasi Model Kedepan
Kebutuhan yang nyata
saat ini dalam praktek birokrasi adalah bagaimana memenuhi kebutuhan konkret
dari masyarakat. Kebutuhan akan peningkatan kualitas kehidupan politik menjadi
suatu tuntutan yang tak terhindarkan. Kondisi birokrasi Indonesia yang masih mencorak
patrimonial, adalah merupakan benang sejarah yang perlu diperhatikan dengan
seksama.
Dalam perkembangan
kearah modernisasi menuntut adanya peningkatan kualitas administrasi dan
manajemen. Selain itu, dalam mengahadapi kondisi saat ini dan menjawab tantangan
masa sekarang, birokrasi Indonesia diharapkan mempunyai kharakteristik yang
mampu bersifat netral, berorientasi pada masyarakat, dan mengurangi budaya
patrimonial dalam birokrasi tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar