Banyak orang langsung
mengernyitkan kening ketika diajak bicara tentang birokrasi Indonesia.
Terbayang di benak, pelayanan yang ruwet dan penuh sengkarut. Birokrat
bermental priyayi yang enggan melayani, sarana pelayanan yang buruk, praktik
KKN yang meraja, hingga kesulitan mengurus perizinan, adalah imaji negatif
betapa reformasi birokrasi masih cendrung dipandang jauh panggang dari api.
Akan tetapi bayangan
kelam itu sontak sirna, saat Lainin Nadziroh (32) mengantre di salah satu
kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) untuk membayar pajak
sekaligus mengganti plat nomor motornya. Ia terkejut. “Gak sampai satu jam
kelar. Antrean juga rapi, petugasnya ramah, dan ruangannya wangi,” tulis
wartawan sebuah harian di Surabaya yang akrab dipanggil Anin ini di laman media
sosialnya.
Diakui Anin,
membaiknya pelayanan tidak hanya di Samsat. Pelayanan di unit-unit birokrasi
lainnya belakangan ini juga terus membaik. “Meski belum seluruhnya, tapi
setidaknya membuktikan bahwa upaya perbaikan pelayanan birokrasi sedang terus
dilakukan oleh pemerintah,” imbuhnya.
Komentar Anin benar.
Setidaknya jika mengintip hasil Survei Lembaga Klimatologi Politik (LKP) tahun
2015, publik menganggap bahwa pemerintah telah berhasil memangkas rantai
pelayanan di birokrasi. Bukan hanya kecepatan layanan yang terus meningkat,
namun kemudahan dan kualitas layanan juga terus membaik.
Program Prioritas
Laiknya mesin bagi
pembangunan, kinerja birokrasi memang harus dijaga dan ditingkatkan
kemampuannya. Pemerintah sadar betul, tanpa birokrasi yang berintegritas dan
memiliki budaya melayani, program-program pembangunan strategis yang berdampak
nyata bagi masyarakat akan sulit terwujud. Maka sangat tepat presiden
menempatkan reformasi birokrasi sebagai salah satu program prioritas pemerintah
sesuai dengan Nawacita.
“Kita memerlukan birokrasi yang cepat,
birokrasi yang melayani dan responsif terhadap perubahan-perubahan dan
perkembangan jaman,” kata Presiden Joko Widodo saat memimpin rapat terbatas
yang membahas masalah penataan manajemen Aparatur Sipil Negara di kantor
Presiden, beberapa waktu lalu.
Menurut presiden,
pemerintahan yang cepat dan responsif terhadap keluhan-keluhan merupakan salah
satu fokus reformasi. Pemerintah di semua tingkat pusat dan daerah mau tidak
mau harus berubah ke arah pemerintah yang terbuka dan memiliki tata kelola
pemerintahan yang baik (good governance). Keterbukaan informasi dalam setiap
aspek penyelenggaraan negara inilah yang diyakini mampu mendorong partisipasi
rakyat, sehingga pembangunan akan berjalan lebih baik dan efsien.
Tata kelola
pemerintahan yang baik tentu sebaiknya dimulai dari aparat pemerintah yang
harus memberi contoh melalui budaya melayani. Dalam konteks ini, Presiden Joko
Widodo mengharapkan aparat pemerintah dapat menanggapi dengan cepat berbagai
kebutuhan masyarakat, karena sejatinya
aparatur negara merupakan pelayan masyarakat.
“Untuk mewujudkannya, harus ada perubahan karakter, mindset dan reformasi pola
kerja yang efektif dan efsien,” tegas Presiden Joko Widodo.
Inovasi Pelayanan
Samsat boleh menjadi
contoh pelayanan cepat yang efektif dan efsien, maka pelayanan izin investasi
dan usaha pun terus digenjot dengan menerapkan model yang nyaris sama. Saat
ini, pengurusan izin di 21 Kementerian telah dialihkan ke Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM), menjadi sistem layanan satu atap. Sebelumnya, mengurus izin tak
cukup hanya ke BKPM. Setelah selesai di BKPM, pemohon harus mengurus izin dari
satu kementerian ke kementerian yang lain.
“Biasanya sih harus
bolak-balik dari kementerian satu ke kementerian lain. Capek, karena makan
waktu sangat lama. Sekarang, cukup datang sekali, langsung selesai urusannya,”
kata Ferdiansyah (51), yang baru saja mengurus izin usahanya di BKPM.
Tidak cukup hanya
memangkas jalur perizinan yang berbelit, pemerintah juga memangkas waktu
pengurusan izin usaha dan investasi selesai dalam satu hari. “Gak pernah
berpikir bisa secepat ini. Biasanya, jangankan sehari, enam bulan bisa selesai
saja sudah dianggap super cepat,” imbuh pengusaha komoditas pertambangan ini
dengan wajah sumringah.
Ia bersyukur,
perizinan satu pintu di BKPM awalnya memang hanya berhasil memangkas waktu
perizinan menjadi hitungan minggu namun Presiden Joko Widodo menginginkan semua
selesai dalam satu hari. BKPM merespon cepat arahan tersebut sehingga perizinan
dapat selesai—bahkan—dalam tiga jam. “Waktu tiga jam itu bukan hanya untuk
mengurus satu izin, namun untuk delapan jenis izin, lho,” tuturnya.
Menular Ke Daerah
Tak hanya di pusat,
inovasi untuk membangun tata kelola pemerintahan yang baik sebagai tujuan akhir
reformasi birokrasi juga dilakukan di daerahdaerah. Salah satunya adalah di
Kota Malang. Pada tahun 2016, kota ini terpilih sebagai kota terbaik dalam hal
keterbukaan informasi publik pada ajang “Government Award” yang diselenggarakan
Sindo Weekly Magazine. Salah satu inovasi Kota Malang adalah menyelenggarakan
Anugerah Inovasi & Kreativitas Informasi Digital (AIKID).
AIKID merupakan
perlombaan yang diselenggarakan setahun sekali untuk setiap satuan kerja
pemerintah yang ada di Kota Malang. Kegiatan yang dimulai sejak tahun 2015 ini
dibuat untuk memacu perangkat daerah lebih giat dalam meningkatkan pelayanan
informasi publik kepada masyarakat. Semua satuan kerja pemerintah di Kota
Malang menjadi terpacu untuk mengoptimalkan media informasi melalui website yang
dimilikinya.
“Inovasi ini merupakan komitmen pemerintah
Kota Malang untuk menjadi kota dengan tata kelola pemerintahan yang baik. Hal
ini diharapkan dapat mendorong partisipasi rakyat dalam pembangunan,” kata Wali
Kota Malang, Mochamad Anton.
Hasil Nyata
Harapan akan sebuah
birokrasi yang cepat, melayani, dan responsif terhadap perubahanperubahan dan
perkembangan zaman kini mulai terlihat wujudnya. Dalam Laporan Evaluasi Kinerja
yang dilakukan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(KemenPANRB), kinerja Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah menunjukkan
peningkatan yang signifkan.
Penilaian tersebut
dilakukan menggunakan indikator akuntabilitas kinerja, yaitu dengan melihat
efektivitas dan efsiensi penggunaan anggaran yang disandingkan dengan capaian
kinerjanya, serta dengan melihat pula kualitas pembangunan budaya kerja
birokrasi pada instansi yang dinilai.
Sejalan dengan
penilaian kinerja pemerintah yang terus membaik, tingkat kepuasan terhadap
kinerja Presiden Joko Widodo juga terus menguat. Survei Saiful Mujani Research
and Consulting (SMRC) pada bulan Juni 2016 menunjukkan bahwa 67% warga
Indonesia menyatakan puas dengan kinerja Joko Widodo. Sebagai perbandingan,
satu tahun lalu (Juli 2015), yang menyatakan puas dengan kinerja Joko Widodo
baru mencapai 41%.
Reformasi birokrasi
di Indonesia sudah mulai terlihat nyata hasilnya. Tentu masih ada kekurangan
yang perlu dibenahi, namun semangat untuk mewujudkan pelayanan yang terbaik
untuk republik ini harus terus dijaga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar